Tampilkan postingan dengan label abstrak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label abstrak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Desember 2014

Malam Hujan

Hujan, bagaimana jika aku hidup saja sendiri denganmu? dengan mendung yg memayungi, tidak panas menyakar kulit, tidak kering kerontang yg memanjakan dahaga.
bagaimana jika aku setiap malam bersama rintikanmu saja? tidak hening, selalu riuh rendah. sampai aku tidur lelap, sampai aku kembali bangun, selalu riuh rendah bersahutan, selalu ramah meskipun dihujat mati-matian.
bagaimana jika tanpa manusia lainnya, hanya bersama hujan. saling memberi penerimaan, saling menerima pemberian.

bagaimana jika aku jadi bagian dari hujan? meracau sendiri sesukanya, dimanapun dia merasa perlu untuk singgah. menetes sedikit demi sedikit, atapun mengoceh tanpa putus-putus, lalu diterima alam sebagai anugerah.

bagaimana jika segalanya jadi hujan? biar tidak ada yg saling menyakiti meskipun jatuh bersamaan. biar tidak ada yg saling membebani meskipun bergantungan di awan bersamaan. biar tidak ada yg sendiri, karena hujan tidak mungkin datang secara pribadi.


Tuhan, aku tidak mengeluh. aku hanya bertanya. kepada salah satu anugerah-Mu, yang sedang sering datang memberi salam dari-Mu dan milik-Mu yang lain. Tuhan, hujan belum menjawabku.
kenapa manusia malah saling melukai?

Jumat, 04 Januari 2013

Dari

Hello, Nicky!

kalem ya Nick.
meskipun rahasia itu sudah bukan rahasia, meskipun ditentang oleh jagad raya, meskipun dalam tidak sepadan dengan luar, meskipun banyak bisikan untuk menjadikan tiadanya suatu ada, meskipun kamu tahu pasti akan tidak mudah, meskipun kamu tahu akan ada hal yang menyakitkan, meskipun dingin akan  lebih membuatmu kedinginan dan panas akan membuatmu bermandikan lebih banyak keringat, meskipun masih banyak meskipun yang berputar-putar di otakmu, 
kamu tidak berjuang sendirian.
kita pasti bisa, selama kamu percaya. kita akan bisa, selama kamu tidak melepaskan genggamanmu dengan Tuhan dan kerabat di samping kiri kanan depan belakang atas dan bawah, di seluruh penjuru pandanganmu, pada saat permulaan, perjalanan, hingga nanti, akan ada peng-akhir-an suatu yang sudah selesai untuk peng-awal-an yang akan kembali dimulai.
biarkan pahit memberikan sambutan, sehingga pada suatu titik, kamu akan disajikan manis yang sepadan.
titik dimana harapan mu-dia-mereka-kita semua, melebur dan menjadi satu, dalam pelukan Tuhan.

Semangat ya, Nick.
Percaya lah. :)

Yogyakarta, 2013 
tertanda,



Kamis, 03 Januari 2013

Mungkin

mungkin karena aku jarang mendapatkannya. mungkin karena aku, kadang diam-diam berharap akan mendapat itu, suatu hari nanti meskipun hanya sebatas itu disela hal lain yang lebih perlu dipikirkan. mungkin karena perjalanan ini. ambruk-ndelesep-nlingsut-dan pada akhirnya bisa menemukan secuil yang masih ada untuk mulai merangkak-tertatih-terseret-seret hingga bisa tegak kembali. mungkin memang tanpa pahit, manis tidak akan semanis ini. mungkin memang Tuhan menampakkan keadillan-Nya dengan cara-Nya, dengan bermacam-macam bentuk. yang kadang tidak tersadari dengan mata, tidak tersentuh dengan tubuh, tidak terjamah akalku yang hanya berputar-putar disekitar problema sehari-hari. 
mungkin memang seharusnya, aku harus lebih belajar untuk mensyukuri yang sudah ada dan pernah ada.
karena yang pernah ada pun tidak hanya pergi begitu saja tanpa meninggalkan apa-apa. apalagi yang, hingga kini, terus di tempatnya.

:)

Selasa, 06 Maret 2012

Hilang Berganti

Semacam sesuatu yang sangat sederhana, yaitu benih. benih yang entah itu sengaja atau tidak, tapi dia terbang dan lepas. mencari tempat yang pas untuk bisa tumbuh dan menjadi kuat, menjadi sesuatu yang berbeda, yang diharapkannya lebih baik. dan benih itu pun, entah sengaja atau tidak, jatuh di suatu tempat yang serupa meskipun berbeda. harapan yang sempat digantung dan diusahakan.

aku juga tidak tahu apa yang dimau penyebar benih itu. kadang dia merawatnya dengan baik, kadang diinjak-injaknya tanpa ampun. kadang disiraminya, kadang dibiarkan nyaris tak berdaya.

tapi, selayaknya benih biasa, dia sudah tumbuh dan mulai menancapkan akarnya. mulai menanti hujan untuk membasahi sesuatu yang ada di dalamnya, mulai menanti zat hara. menunggu, dan menunggu.
seperti roda yang terus berputar, kadang penabur itu memberinya tapi kadang membiarkannya untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

dan ketika benih itu menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak terbayangkan, yah semoga Tuhan selalu menjaganya. setidaknya, untuk saat ini. bersama pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban, mari lihat. seberapa kokoh akarnya akan menancap, seberapa tinggi batangnya akan menjulang, dan seberapa kuat dia akan bertahan :)